Bicara kasar

Sebut saja namanya Ust. C, datang berkunjung ke rumah saya kurang lebih jam 20.15 wib. Datang sendiri, ini tidak biasa, karena setiap berkunjung selalu berdua dengan Bang Jul.

Setelah duduk di bale dan telah tersaji kopi hangat, mulailah Ust. C. menceritakan alasan mengapa dia datang seorang diri.

” Bang Jule tidak ikut karena  ada hajatan, abangnya menikahkan anak perumpuanya, malam ini malam mangkat.”

Demikian penjelasan Ust. C., ” maaf bib ana juga sebagai saudaranya tidak diundang”.

Saya masih diam, terus menyimak cerita Ust. C, yang menggambarkan betapa dia merasa diasingkan.

Ust. C, menelpon bang Jul, memberitahukan bahwa dia sudah sampai di rumah saya, dan dia dengan nada bercanda meminta bang Jul agar segera nyusul, datang membawa makanan. Bang Jul pun meng-iyakan, tanda setuju.

A Persian woman playing the Daf, from a painti...

Kria-an

Kamipun kembali dengan perbincangan, tiba-tiba Hp Ust. C. berdering, setelah diangkat terdengar suara yang keras dan bernada kasar yang mengatakan

” Jul nga bisa datang…!! “

Ust.C, bertanya , ” siapa ini? “

” Kentang..!!!” jawaban terdengar kasar, lalu telpon ditutup.

Ust. C. mukanya memerah, suara telpon tadi keras dan kasar sampai terdengar oleh telinga saya, yang duduk berseberangan dengan Ust. C.

Kekecewaan terlihat jelas, perasaannya semakin mendongkol. Saya segera menawarkan kopi agar segera diminum, dengan harapan perhatian beralih sejenak.

si Kentang ini, Mengaku ustad tapi mendengar dan melihat sepak terjangnya selama ini sepertinya tidak layak menyandang gelar ustad, apalagi ditambah dengan cerita dari Ust. C.

jadi yang memboikot atau mengasingkan Ust. C ini, ya itu si Kentang.

Lalu bagaimana dengan bang Jul ?, ya sama seperti yang dialami oleh Ust C, mereka diasingkan oleh kelompok si Kentang, yang nyata-nyata tadinya mereka adalah dibawah satu naungan.

Kedengeranya hebat juga nih si Kentang….

Subhanallah, cerita ini akan jadi panjang sekali, ini kisah nyata loh…, insya Allah ta’alla nanti kita sambung lagi dalam postingan kedepan. Namun ada yang ingin saya garis bawahi dan harus kitajauhi dari cerita di atas yaitu :

  1. berkata kasar dan memaki
  2. tidak hormat dengan orang yang lebih tua usianya.
  3. merasa diri orang baik, tapi berkelakuan ba’ tukang maksiat.
Iklan

About mzaistiqomah

berusaha Istiqomah

Posted on November 12, 2011, in kisah, Renungan and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: